Salah satu hobi yang saya miliki adalah memelihara ayam. Enggak banyak sih. Tapi cukuplah untuk membuat pagi saya bising karena suara mereka meminta jatah sarapan pagi.
Yup. Setiap pagi, semua ayam-ayam saya akan berkerumun di depan pintu dapur. Mereka mengeluarkan suara-suara yang saling bersahutan satu sama lain. Bukan berkotek atau kukuruyuk lho. Kalo saya boleh bilang, suara percakapan antara mereka tentang, mana nih bos kita kok belum bangun? kan perut kita udah laper berat belom makan dari kemaren malam."
Begitulah ira-kira saya asumsikan.
Salah satu dari sekian banyak ayam yang saya miliki bernama Mruntik.
Secara usia, Mruntik bisa dibilang sudah sangat uzur. Kalau tidak salah hitung usianya sekitar sepuluh tahunan. Dan Mruntik merupakan ayam tertua dari semua ayam yang ada. Bisa dibilang dia adalah kepala suku.
Warna bulu Mruntik abu-abu kotor dengan totol hitam di bagian ujung ekornya. Aslinya Mruntik ini tiga bersaudara. Dua jantan dan satu dia betina.
Seingat saya, salah satu abang Mruntik dulu saya diminta oleh tetangga untuk dijadikan obat. Jadi ceritanya, tangan tetangga saya itu keseleo sampai tidak bisa dibengkokkan. Beragam obat sudah dicobanya namun kondisi tangannya tetap begitu saja.
Sampai kemudian dia disarankan untuk membuat minyak dari ayam yang bulunya kriting. Nah kebetulan, abang Mruntik yang saya namankan Teletubies ini keriting. Maka datanglah tetangga ini adi ke rumah untuk meminta tolong agar diperbolehkan membeli Teletubies.
Saya itu sebenarnya tidak pernah suka untuk menjual ayam. Namun karena alasan berobat maka saya minta tetangga tersebut untuk menukarkan Teletubies dengan ayam miliknya saja. Deal!
Balik lagi ke Mruntik...
Lewat Mruntik saya banyak belajar tentang ayam. Ternyata setelah saya perhatikan prilaku Mruntik secara lebih dalam, ada juga lho ayam yang pintar dan yang bodoh.
Mruntik itu termasuk ayam yang pintar.
Di saat banyak ayam yang kalau hujan membiarkan dirinya basah kuyup diguyur air, maka Mruntik beda. Begitu hujan turun, dia langsung mengambil ancang-ancang tempat berteduh bersama anak-anaknya. Dia gak peduli, mau sejauh apapun tempat berteduh itu, pokoknya dia harus bisa berteduh dan terhindar dari hujan.
Begitu juga ketika cuaca panas. Mruntik gak akan pernah mau bermain di cuaca panas. Dia pasti membawa anak-anaknya bertedeuh di bawah pohon atau malah mlipir masuk ke gudang belakang rumah kami.
Gak heran kalau sekarang, anak, cucu dan cicit Mruntik mengikuti kelakuan Mruntik jika sedang hujan dan panas.
Oia, Mruntuik juga tergolong ayam yang sangat, sangat menjaga betul anak-anaknya dari bahaya apapun yang sekiranya sedang mengintai.
Tak heran, karena sifatnya itu, saya entah sudah berapa puluh kali kena patuk paruhnya yang tajam itu. Sakit bener rasanya. Dan gak cuma saya yang merasakannya. Beberapa anggota keluarga lain juga udah pernah kena patukan Mruntik.
Saat ini Mruntik sedang mengerami telurnya. Sudah lebih dari sebulan belum menetas juga. Biasanya rata-rata ayam mengeram itu sekitar 21 hari. Tapi Mruntik beda.
Sebenarnya telur-telur yang dierami Mruntik itu sudah kadaluwarsa dan dipastikan tidak akan menetas. Tapi untuk menyadarkan Mruntik bahwa telurnya sudah kadaluwarsa pun saya malas. Harap maklum saja. Mruntik sudah pikun. Jadi kalau disadarkan pun dia pasti tidak akan terima dan balik lagi ke telur-trlur yang dieraminya.
Jadi dari pada kena patuk entah untuk yang keberapa kalinya lagi, lebih baik saya mengintip sambil mendoakan kesehatan Mruntik.
Sehat selalu ya Mruntik...
Yup. Setiap pagi, semua ayam-ayam saya akan berkerumun di depan pintu dapur. Mereka mengeluarkan suara-suara yang saling bersahutan satu sama lain. Bukan berkotek atau kukuruyuk lho. Kalo saya boleh bilang, suara percakapan antara mereka tentang, mana nih bos kita kok belum bangun? kan perut kita udah laper berat belom makan dari kemaren malam."
Begitulah ira-kira saya asumsikan.
Salah satu dari sekian banyak ayam yang saya miliki bernama Mruntik.
Secara usia, Mruntik bisa dibilang sudah sangat uzur. Kalau tidak salah hitung usianya sekitar sepuluh tahunan. Dan Mruntik merupakan ayam tertua dari semua ayam yang ada. Bisa dibilang dia adalah kepala suku.
Warna bulu Mruntik abu-abu kotor dengan totol hitam di bagian ujung ekornya. Aslinya Mruntik ini tiga bersaudara. Dua jantan dan satu dia betina.
Seingat saya, salah satu abang Mruntik dulu saya diminta oleh tetangga untuk dijadikan obat. Jadi ceritanya, tangan tetangga saya itu keseleo sampai tidak bisa dibengkokkan. Beragam obat sudah dicobanya namun kondisi tangannya tetap begitu saja.
Sampai kemudian dia disarankan untuk membuat minyak dari ayam yang bulunya kriting. Nah kebetulan, abang Mruntik yang saya namankan Teletubies ini keriting. Maka datanglah tetangga ini adi ke rumah untuk meminta tolong agar diperbolehkan membeli Teletubies.
Saya itu sebenarnya tidak pernah suka untuk menjual ayam. Namun karena alasan berobat maka saya minta tetangga tersebut untuk menukarkan Teletubies dengan ayam miliknya saja. Deal!
Balik lagi ke Mruntik...
Lewat Mruntik saya banyak belajar tentang ayam. Ternyata setelah saya perhatikan prilaku Mruntik secara lebih dalam, ada juga lho ayam yang pintar dan yang bodoh.
Mruntik itu termasuk ayam yang pintar.
Di saat banyak ayam yang kalau hujan membiarkan dirinya basah kuyup diguyur air, maka Mruntik beda. Begitu hujan turun, dia langsung mengambil ancang-ancang tempat berteduh bersama anak-anaknya. Dia gak peduli, mau sejauh apapun tempat berteduh itu, pokoknya dia harus bisa berteduh dan terhindar dari hujan.
Begitu juga ketika cuaca panas. Mruntik gak akan pernah mau bermain di cuaca panas. Dia pasti membawa anak-anaknya bertedeuh di bawah pohon atau malah mlipir masuk ke gudang belakang rumah kami.
Gak heran kalau sekarang, anak, cucu dan cicit Mruntik mengikuti kelakuan Mruntik jika sedang hujan dan panas.
Oia, Mruntuik juga tergolong ayam yang sangat, sangat menjaga betul anak-anaknya dari bahaya apapun yang sekiranya sedang mengintai.
Tak heran, karena sifatnya itu, saya entah sudah berapa puluh kali kena patuk paruhnya yang tajam itu. Sakit bener rasanya. Dan gak cuma saya yang merasakannya. Beberapa anggota keluarga lain juga udah pernah kena patukan Mruntik.
Saat ini Mruntik sedang mengerami telurnya. Sudah lebih dari sebulan belum menetas juga. Biasanya rata-rata ayam mengeram itu sekitar 21 hari. Tapi Mruntik beda.
Sebenarnya telur-telur yang dierami Mruntik itu sudah kadaluwarsa dan dipastikan tidak akan menetas. Tapi untuk menyadarkan Mruntik bahwa telurnya sudah kadaluwarsa pun saya malas. Harap maklum saja. Mruntik sudah pikun. Jadi kalau disadarkan pun dia pasti tidak akan terima dan balik lagi ke telur-trlur yang dieraminya.
Jadi dari pada kena patuk entah untuk yang keberapa kalinya lagi, lebih baik saya mengintip sambil mendoakan kesehatan Mruntik.
Sehat selalu ya Mruntik...
Komentar
Posting Komentar