Desember 2014.
Sebuah kesempatan datang untuk saya bisa berkunjung ke Jogja yang kata kebanyakan orang begitu istimewa. Menyimak syair lagu "Jogjakarta" dari KLA Project bisa jadi Jogja memang istimewa. Namun itu kan hanya sebatas syair metafora dari sebuah lagu. Keabsahannya masih bisa diragukan. Dan karena alasan itu pulalah, saya datang untuk membuktikan kebenarannya.
Sebegitu istimewakah Jogja hingga begitu banyak orang rela menautkan kenangannya ke kota kecil di selatan Jawa Tengah ini?
Entahlah.
Petualangan di Mulai
Yang jelas, begitu pesawat yang saya tumpangi mendarat mulus di bandara Adisucipto, lantunan gending dan suara sinden langsung menyergap saya dalam romantisme khas masyarakat Jawa yang asing namun meneduhkan jiwa.
Saya larut namun tidak lama. Jemputan yang sudah berjanji menjemput saya ternyata telah tiba. Saya harus segera memulai petualangan yang hanya sesaat ini.
Tanpa perlu singgah di hotel, saya memutuskan untuk langsung menuju ke Prambanan. Lokasinya yang berada tak jauh dari bandara Adisucipto sangat cocok jadi pilihan pertama dalam daftar lokasi yang harus dikunjungi.
Sesuai dongeng yang sering saya dengar dari kisah Rara Jonggrang. Candi Prambanan tampak terdiri dari banyak bangunan candi-candi mandiri, baik yang berukuran besar maupun kecil. Kompleks candi hindu yang diperkirakan dibangun pada masa Rakai Pikatan seorang raja Mataram Kuno dari Wangsa Sanjaya pada tahun 850 masehi ini dari sisi arsitektur bangunan memang sangat berbeda dengan candi Borobudur di Magelang.
Wajar saja. Karena yang satu candi Hindu sementara satunya lagi candi Budha.
| Candi Prambanan (dokpri) |
Menjelang sore, seluruh kompleks candi sudah saya kelilingi. Kaki mulai pejal. Badan yang masih letih setelah melakukan perjalanan jauh kini minta istirahat. Saya pun mengajak supir untuk mengantar saya ke penginapan.
Di perjalanan, perut keroncongan. Pak supir dengan sigap membawa saya ke kawasan penuh nostalgia dan paling terkenal di Jogja untuk makan malam, dimana lagi kalau bukan di Malioboro.
| Penjaja sate kere di Malioboro (dokpri) |
Awalnya saya ingin menjajal sego kucing yang banyak tersedia di berbagai angkringan kota Jogja. Namun ketika melewati deretan penjaja sate kere di depan komplek Gedung Agung, aroma bumbu dan lemak daging yang di bakar begitu menggoda saya untuk singgah dan menyicipinya.
Rasanya....uhhmm... Sedapnya!
Setelah kenyang dengan dua porsi sate kere saya langsung ke hotel untuk istirahat.
Di hari kedua, tujuan pertama saya adalah Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat.
Jogja dan Kraton itu bagai dua sisi mata uang yang tak mungkin dipisahkan. Karena itu tak lengkap rasanya berkunjung ke Jogja tanpa mengunjungi istana Raja Jogja, Sri Sultan Hamengkubuwono X. Lokasinya tak jauh dari alun-alun utara dan masjid Gede Kauman.
Puas melihat-lihat bangunan utama Kraton, saya kemudian melanjutkan perjalanan ke Taman Sari. Sebuah kompleks pemandian dan rekreasi bagi Sultan dan kerabat istana pada jaman dahulu. Di lokasi Taman Sari ada banyak lorong-lorong bawah tanah yang sengaja dibuat sebagai tempat penyelamatan jika sewaktu-waktu terjadi keadaan darurat.
| Pemandian Taman Sari (dokpri) |
Usai berkeliling di komplek Taman Sari, perjalanan saya lanjutkan ke ujung selatan Jogja, yaitu Pantai Parangtritis.
Pantai Parangtritis memiliki keunikan pemandangan bila dibanding pantai-pantai lainnya di Jogja, yaitu adanya bukit-bukit pasir di sekitar pantai yang biasa disebut gumuk. Lokasi tersebut kemudian banyak dimanfaatkan oleh penduduk lokal untuk menarik wisatawan dengan mengadakan atraksi sandboarding.
Selain sandboarding, di pantai Parangtritis juga ada ATV, kereta kuda dan kuda yang bisa disewa untuk menyusuri pantai dari timur ke barat. Bagi yang uang di kantongnya pas-pasan, bermain layangan sangat di rekomendasikan sebagai salah satu cara menikmati liburan di Parangtritis.
Menjelang senja saya memutuskan kembali ke Jogja. Saya ingin menikmati suasana malam di Malioboro yang katanya semakin malam semakin meriah.
Benar saja. Selepas magrib saya tiba di Malioboro, kawasan trotoarnya sudah penuh sesak oleh wiatawan yang hilir mudik menikmati suasana malam. Pengamen jalanan sebagian sudah mulai "mentas" membawakan berbagai macam jenis lagu yang sedang booming.
Toko-toko ramai dimasuki pembeli. Penjual makanan pun sibuk menyiapkan pesanan makanan orang-orang yang sebagian memilih duduk melantai di trotoar.
Suasananya benar-benar meriah. Sanking meriahnya, saya sampai tidak menyadari jika waktu sudah melewati dini hari. Kemeriahan Malioboro benar-benar melenakan. Tapi saya harus kembali. Sebab besok petualangan seru di Jogja harus sudah berakhir.
Hari terakhir di Jogja, saya masih memiliki waktu beberapa jam untuk membeli oleh-oleh sebelum ke bandara. Bergegaslah saya ke pasar Beringharjo untuk membeli barang sebiji dua biji oleh-oleh pakaian buat keluarga.
Padatnya pasar Beringharo, luar biasa! Dimana-mana manusia. Dimana-mana pembeli. Saya sampai bermandi keringat mengitari pasar berlantai tiga ini. Berdesak-desakan.
Begitu selesai membeli oleh-oleh, saya langsung keluar dan berangkat menuju bandara. Waktunya pulang ke Medan.
Tentu saja saya tak mau melewatkan kesempatan ini.
Mudah-mudahan saja saya benar-benar bisa mendapatkan voucher 70% dari OYO Hotels Indonesia. Agar saya bisa merealisasikan resolusi pribadi di tahun 2020. Dan bila itu terjadi, saya pasti akan sangat bahagia sekali.
Seperti kata KLA Project, "Semoga.."
Pantai Parangtritis memiliki keunikan pemandangan bila dibanding pantai-pantai lainnya di Jogja, yaitu adanya bukit-bukit pasir di sekitar pantai yang biasa disebut gumuk. Lokasi tersebut kemudian banyak dimanfaatkan oleh penduduk lokal untuk menarik wisatawan dengan mengadakan atraksi sandboarding.
Selain sandboarding, di pantai Parangtritis juga ada ATV, kereta kuda dan kuda yang bisa disewa untuk menyusuri pantai dari timur ke barat. Bagi yang uang di kantongnya pas-pasan, bermain layangan sangat di rekomendasikan sebagai salah satu cara menikmati liburan di Parangtritis.
| Bermain ATV di Pantai Parangtritis (dokpri) |
Benar saja. Selepas magrib saya tiba di Malioboro, kawasan trotoarnya sudah penuh sesak oleh wiatawan yang hilir mudik menikmati suasana malam. Pengamen jalanan sebagian sudah mulai "mentas" membawakan berbagai macam jenis lagu yang sedang booming.
Toko-toko ramai dimasuki pembeli. Penjual makanan pun sibuk menyiapkan pesanan makanan orang-orang yang sebagian memilih duduk melantai di trotoar.
Suasananya benar-benar meriah. Sanking meriahnya, saya sampai tidak menyadari jika waktu sudah melewati dini hari. Kemeriahan Malioboro benar-benar melenakan. Tapi saya harus kembali. Sebab besok petualangan seru di Jogja harus sudah berakhir.
Hari terakhir di Jogja, saya masih memiliki waktu beberapa jam untuk membeli oleh-oleh sebelum ke bandara. Bergegaslah saya ke pasar Beringharjo untuk membeli barang sebiji dua biji oleh-oleh pakaian buat keluarga.
| Paasar Beringharjo (dokpri) |
Padatnya pasar Beringharo, luar biasa! Dimana-mana manusia. Dimana-mana pembeli. Saya sampai bermandi keringat mengitari pasar berlantai tiga ini. Berdesak-desakan.
Begitu selesai membeli oleh-oleh, saya langsung keluar dan berangkat menuju bandara. Waktunya pulang ke Medan.
Rindu itu Menyeruak
Desember 2019.
Saya sudah teramat rindu pada Jogja. Setiap rasa itu muncul saya selalu meredam dan memendamnya. Hingga kadang timbul tenggelam di telan rutinitas.
Namun rindu yang terpendam itu tiba-tiba menyeruak karena adanya tawaran menarik dari jaringan layanan perhotelan dan hotel hemat OYO Hotels Indonesia berupa voucher diskon 70%. Benar-benar tawaran yang sangat menggoda dari sebuah jaringan hotel berkualitas tapi dengan harga bersahabat.
Prioritas kami saat ini adalah menyediakan layanan menginap dengan harga mulai dari Rp149.000 (Ritesh Agarwal - Founder OYO Rooms)
Tentu saja saya tak mau melewatkan kesempatan ini.
Saya ingin kembali ke Jogja. Menikmati suasana santai dan bersahabat di setiap sudut kota. Menyantap kuliner-kuliner murah meriah yang berbaris di sepanjang trotoar jalan. Mencoba lokasi-lokasi wisata baru yang menantang adrenalin. Tidur di hotel murah di Jogja yang bisa saya pesan di jaringan OYO Hotel Indonesia, baik lewat website maupun aplikasinya.
Yup, saya ingin kembali ke Jogja.
Mungkin keinginan ini bisa menjadi salah satu resolusi 2020 yang harus direalisasikan. Semoga bisa. Dan jika itu nanti benar-benar terjadi, saya sudah membuat daftar list lokasi wisata wajib yang ingin saya kunjungi.
Jika lima tahun lalu saya mengunjungi lokasi-lokasi ikon wisata kota Jogja maka kali ini saya ingin sekali berkunjung ke objek wisata yang bisa menantang adrenalin. Yang bisa membuat saya setidaknya berteriak-teriak meminta tolong ketika melakoninya.
Mau tau apa saja listnya? Ini dia...
1. Merapi
Menjajal lava tour Merapi merupakan impian saya. Berlompatan di atas jeep, menantang gagahnya Merapi. Pasti sangat memompa adrenalin.
2. Pantai Sinden
Sebuah pantai baru di daerah Gunungkidul memiliki tantangan baru untuk ditaklukan yaitu melewati jembatan gantung diantara Pantai Sinden dan Pulau Kalong yang ada di seberangnya. Wow.
3. Pantai Timang
Jika sebelumnya saya pernah mencoba kereta gantung di TMII kali ini saya ingin menjajal keberanian saya mencoba kereta gantung yang ada di Pantai Timang. Pasti sangat menantang karena harus melewati deburan ombak yang ada di bawahnya.
4. Goa Jomblang
Saya pernah beberapa kali menyususri goa. Umumnya goa-goa wisata yang horizontal. Tantangannya menurut saya kurang tinggi. Saya ingin yang lebih lagi. Karenanya mencoba susur Goa Jomblang yang vertikal masuk dalam salah satu list keinginan yang akan direalisasikan.
5. Umbul Ponggok
Saya suka selfie. Tapi belum pernah selfie di dalam air karena itu saya pengen banget bisa selfie di dalam air. Dan salah satu cara untuk meralisasikan impian itu adalah dengan mengunjungi Umbul Ponggok yang memiliki atraksi ber-selfie di dalam air. Beuh!
Seperti kata KLA Project, "Semoga.."
Ulasannya kerennn... jadi ikutan pengen ke Jogjaaa hehehe
BalasHapus