Langsung ke konten utama

Jalan-jalan ke Pantai Toronipa di Kendari

Ketika melakukan kunjungan ke kota Kendari beberapa waktu yang lalu, saya menyempatkan diri menikmati keindahan salah satu pantai yang cukup terkenal disana, yaitu Pantai Toronipa.

Berbekal kebaikan kenalan di Kendari, saya dan seorang teman pun diantar menuju pantai yang berjarak sekitar 10 km dari pusat kota Kendari.

Begitu sampai di Pantai Toronipa, hamparan laut yang luas pun langsung memanjakan mata saya. Debur ombak di pantai berpasir putih menghantarkan buih-buih putih ke kaki saya yang duduk di salah satu kayu besar di pinggir pantai. 

Pikiran penat yang muncul akibat memikirkan deal-deal bisnis, langsung hilang, pergi entah kemana dibawa angin laut.

Sudut Pantai Toronipa

Lokasi pantai lumayan bersih. Jarang ditemukan sampah baik di bibir pantai maupun di bagian lainnya. Suasana disini benar-benar tenang. Jauh dari keramaian.

Sayangnya tidak ada penjual makanan yang berjualan di sekitar pantai. Mungkin karena saya dan teman juga datang bukan di hari minggu. Jadi sekedar mencari penjual air mineral pun kami kesulitan. 

Rumah suku Bajo yang ada di sekitara pantai
 Oia, ketika dalam perjalanan menuju pantai, satu kilometer sebelum tiba di pantai Toronipa, saya melihat jajaran rumah-rumah berwarna-warni yang di bangun diatas mulut pantai.

Di setiap rumah pasti tampak sebuah perahu tertambat.

Ketika saya menanyakan soal rumah-rumah tersebut, teman yang asli Buton itu menjawab bahwa itu adalah perumahan suku Bajo yang ada di sekitar pantai.

Mereka tidak bisa hidup jika tidak bersentuhan langsung dengan laut. Jadi memang rumah-rumah mereka harus ada di tengah laut, begitu penjelasan teman saya itu.

Sebuah pengetahuan baru saya dapat dari kunjungan ke Pantai Toronipa.

Bersantai di pinggir pantai
 Satu hal yang paling menyenangkan untuk dilakukan di tepian pantai Toronipa adalah bermain berbagai permainan air yang ada disana. Mulai dari banana boat dan beberapa jenis permainan lainnya yang saya kurang hafal istilahnya.

Saya sendiri karena kurang bisa berenang, memilih untuk duduk menikmati desiran angin laut dan melihat orang-orang yang dihempaskan banana boat daripada ikut menikmati kegembiraan bermain banana boat.

Menjelang senja
Tak terasa waktu pun terus berputar. Menjelang senja, saya dan teman beranjak pulang ke hotel. Segala penat telah hilang. Semangat baru muncul kembali. 

Saya berharap, suatu saat saya bisa kembali lagi ke Pantai Toronipa. Menikmati desir angin yang lembut dan pasir putih halus yang selalu sabar menantikan pengunjungnya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjemput Setangkup Rindu di Jogja

Desember 2014.  Sebuah kesempatan datang untuk saya bisa berkunjung ke Jogja yang kata kebanyakan orang begitu istimewa. Menyimak syair lagu "Jogjakarta" dari KLA Project bisa jadi Jogja memang istimewa. Namun itu kan hanya sebatas syair metafora dari sebuah lagu. Keabsahannya masih bisa diragukan. Dan karena alasan itu pulalah, saya datang untuk membuktikan kebenarannya.  Sebegitu istimewakah Jogja hingga begitu banyak orang rela menautkan kenangannya ke kota kecil  di selatan Jawa Tengah ini? Entahlah. Petualangan di Mulai Yang jelas, begitu pesawat yang saya tumpangi mendarat mulus di bandara Adisucipto, lantunan gending dan suara sinden langsung menyergap saya dalam romantisme khas masyarakat Jawa yang asing namun meneduhkan jiwa.  Saya larut namun tidak lama. Jemputan yang sudah berjanji menjemput saya ternyata telah tiba. Saya harus segera memulai petualangan yang hanya sesaat ini.  Tanpa perlu singgah di hotel, saya memutuskan...